Handymancontractoraugusta.com – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia baru aja nyampein update soal kondisi listrik di Aceh yang masih babak belur gara-gara banjir bandang dan longsor. Di Sidang Kabinet bareng Presiden Prabowo Subianto di Istana, Bahlil blak-blakan ngomongin kondisi di lapangan yang jujur aja, masih jauh dari kata aman dan nyaman. Buat Banda Aceh yang jadi pusat pemerintahan sekaligus urat nadi ekonomi daerah, listrik emang udah mulai nyala lagi.
Read More : Pangdam Im Tegaskan Kondisi Banda Aceh Masih Kondusif Meski Ada Aksi Massa
Tapi jangan keburu senang, dayanya masih ngos-ngosan. Belum full power. Ibarat mesin, baru dipanasin, belum bisa diajak ngebut. Bahlil jelasin, sebenarnya kapasitas pembangkit listrik di Banda Aceh itu bisa tembus 110 megawatt. Cuma ya itu, gara-gara jaringan rusak dan infrastruktur pada ambyar, listrik yang beneran bisa disalurin ke warga baru sekitar 60 megawatt. Angka segitu jelas belum ideal.
Tapi setidaknya cukup buat jadi napas pertama, biar aktivitas warga nggak mati total. Lampu nyala, roda hidup muter lagi, meski masih pelan-pelan, sambil nunggu kondisi beneran pulih. Selebihnya, kekurangan pasokan masih harus ditambal menggunakan genset di sejumlah titik penting.
Progres Gardu Induk dan Transmisi Sumatra
Pemulihan tak berhenti di situ. Pembangunan dan perbaikan jaringan gardu induk terus dikebut. Hingga pertengahan Desember, progresnya sudah menyentuh angka 80 hingga 90 persen. Targetnya, dalam hitungan hari, jaringan ini bisa tersambung penuh. Jika rampung, aliran listrik dari wilayah Arun dan Bireuen akan kembali mengalir normal dan terhubung dengan sistem transmisi jalur Sumatra.
Saat koneksi ini hidup sepenuhnya, harapannya pasokan listrik Banda Aceh bisa jauh lebih stabil. Namun, Bahlil menegaskan, listrik belum bisa dialirkan ke semua desa terdampak. Di lapangan, masih banyak wilayah dengan akses jalan terputus, tiang listrik roboh, bahkan ada yang masih terendam banjir. Memaksakan aliran listrik ke kondisi seperti itu justru berbahaya. Risiko korsleting hingga kecelakaan warga jadi pertimbangan utama pemerintah untuk menahan penyaluran.
Data Pelanggan dan Desa Terdampak
Singkatnya hampir satu juta pelanggan PLN di Aceh ikut kena imbas bencana. Kabar baiknya sampai 14 Desember 2025 sekitar 776 ribu pelanggan udah bisa nyalain lampu lagi di rumah. Banyak wilayah juga mulai terang lagi lebih dari lima ribu desa udah kebagian listrik meski masih ada ratusan desa yang harus nunggu dengan sabar.
Beberapa daerah jadi yang paling kerasa dampaknya kayak Aceh Tengah Bener Meriah dan Aceh Tamiang. Di sana proses benerin jaringan listrik nggak main main. Medannya parah lumpur tebal sampai setinggi dada orang dewasa jalanan putus total dan akses ke lokasi susah banget. Jadi ya wajar kalau pemulihannya butuh waktu dan ekstra tenaga.
Baca juga: Budaya Ngopi Aceh: Mengapa Warung Kopi Jadi Pusat Komunikasi Dan Jaringan Bisnis Di Banda Aceh?
Tantangan Berat di Jalur Transmisi
Ketua Tim ESDM Siaga Bencana, Rudy Sufahriadi, mengungkapkan tantangan teknis paling krusial berada di jalur transmisi SUTT 150 kV Sigli-Bireuen. Meski menara darurat sudah berdiri menggantikan menara yang roboh, proses penarikan kabel masih tersendat akibat lumpur pekat yang seolah menelan setiap langkah. Di sinilah kesabaran diuji, karena listrik bukan sekadar soal saklar, tapi soal keselamatan dan ketahanan infrastruktur.
Pemulihan listrik Aceh memang belum tuntas. Tapi di balik kabel yang masih terurai dan tiang yang belum tegak, ada upaya tanpa henti agar cahaya bisa kembali menyapa rumah-rumah warga. Pelan, bertahap, namun terus bergerak ke arah pulih sepenuhnya.