Handymancontractoraugusta.com – PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN Banda Aceh kembali bikin banyak orang mengernyit tak percaya. Di saat proyek listrik biasanya identik dengan waktu panjang, berlapis izin, dan drama teknis, PLN justru menorehkan rekor baru. Dalam waktu hanya satu minggu, sebuah pembangkit listrik berkekuatan 5 MW berdiri tegak di Lueng Bata, Banda Aceh, dan langsung masuk ke sistem kelistrikan kota. Sabtu, 13 Desember 2025, lampu-lampu kembali bernapas lega.
Read More : Sosialisasi Peduli Lingkungan Di Aceh, Apakah Bisa Jadi Bisnis Hijau Baru?
Proyek Kilat yang Pecahkan Rekor PLN
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN Persero, Rizal Calvary Marimbo, menyebut pembangunan ini sebagai yang tercepat sepanjang sejarah PLN. Ia bercerita, dua minggu sebelumnya baru menandatangani administrasi. Setelah itu, waktu seperti diperas. Lima hari kerja penuh, siang dan malam tanpa jeda, pembangkit selesai dan langsung menyumbang 5 MW ke sistem Banda Aceh.
Besoknya, tambahan 5 MW lagi menyusul. Total 10 MW dari Lueng Bata siap menopang kota. Sebelumnya, rekor tercepat pembangunan pembangkit listrik di PLN butuh waktu sekitar dua bulan. Kini, hitungannya tinggal hari. Seperti kilat yang tak mau menunggu hujan reda.
Dorongan Menteri ESDM Jadi Pemantik
Rizal mengungkapkan, percepatan ini tak lepas dari dorongan kuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Target dipasang terang-terangan. Pembangkit di Lueng Bata harus menyala hari Sabtu, tanpa alasan, tanpa mundur. PLN menyanggupi, dan janji itu ditepati.
Para petugas di lapangan bekerja tanpa mengenal waktu. Sistem kerja dibagi tiga shift. Siang, malam, dini hari, semuanya bergerak seperti roda yang tak boleh macet. Ada suara mesin, bau solar, dan keringat yang jatuh pelan-pelan, membasahi tanah Lueng Bata.
Rencana Tambahan Daya untuk Banda Aceh
PLTD Lueng Bata bukan akhir cerita. Setelah ini, PLN menyiapkan pembangkit lain di Krueng Raya sebesar 15 MW. Tak berhenti di sana, Ule Kareng akan menyusul dengan kapasitas 50 MW dan tambahan 15 MW. Semua dirancang untuk satu tujuan, memperkuat keandalan listrik Banda Aceh dari dalam kota sendiri.
Rizal menjelaskan, selama ini Banda Aceh punya titik lemah. Kota ini minim pembangkit besar, sehingga sangat bergantung pada suplai daya dari wilayah jauh seperti Arun dan Nagan. Ketika jalur terganggu, kota ikut gelap. Karena itulah, PLN menginisiasi pembangunan total 100 MW pembangkit di dalam dan sekitar Banda Aceh.
Menuju Banda Aceh Mandiri Listrik
Targetnya jelas. Sebelum Ramadan tiba, keandalan listrik Banda Aceh harus jauh lebih kuat. Kota ini harus berdiri di atas kakinya sendiri, mandiri dari sisi pasokan listrik. Rizal, yang sudah dua minggu terakhir berkantor langsung di Banda Aceh, menyebut ini sebagai ikhtiar panjang, bukan kerja semalam.
Ia pun memberi apresiasi penuh kepada para petugas PLN. Mereka yang bekerja tanpa sorotan, tanpa panggung, namun jadi tulang punggung pemulihan listrik. Pelan tapi pasti, Banda Aceh kembali terang. Dan kali ini, cahayanya datang dari dalam kota sendiri.