Handymancontractoraugusta.com – Banda Aceh, kota yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, ternyata memiliki peran penting dalam jalur perdagangan dunia. Baru-baru ini, Wali Kota Banda Aceh memanfaatkan forum internasional untuk memperkenalkan Banda Aceh sebagai simpul penting Jalur Sutra Maritim.
Read More : Ragam Komunitas Lari Di Banda Aceh: Tidak Sekadar Adu Outfit Dan Fomo
Kesempatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi kota, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional. Illiza menekankan bahwa Banda Aceh tidak sekadar kota kecil di ujung barat Indonesia. Melainkan pusat peradaban yang terbuka terhadap dunia, dan kini siap menjadi mitra strategis dalam berbagai kolaborasi lintas negara.
Banda Aceh di Forum Maritime Silk Road Conference
Illiza hadir sebagai pembicara dalam Maritime Silk Road Conference, undangan khusus dari Kantor Cabang Zhejiang Kantor Berita Xinhua dan Pemerintah Rakyat Kota Wenzhou, Provinsi Zhejiang, China. Forum ini membahas kerja sama pariwisata, perdagangan, dan sektor budaya lintas negara.
Dalam presentasinya, Illiza menegaskan bahwa Banda Aceh adalah titik awal Jalur Sutra Maritim di Asia Tenggara. Sejak abad ke-15, pelabuhan kota ini menjadi persinggahan kapal dari Tiongkok, Arab, dan India, membawa rempah, sutra, ilmu, dan nilai peradaban.
Warisan Budaya dan Pariwisata Banda Aceh
Banda Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, bukan hanya karena religiusitasnya, tetapi juga keterbukaannya terhadap dunia. Warisan Kesultanan Aceh Darussalam masih terlihat jelas, mulai dari Masjid Raya Baiturrahman hingga jejak sejarah di Gunongan.
Dalam sektor pariwisata, Illiza memperkenalkan brand “Charming Banda Aceh”, yang menyoroti lima pesona, budaya dan seni, tsunami dan ketangguhan, religi dan sejarah Islam, kuliner, serta wisata bahari melalui sinergi daerah Basajan (Banda Aceh, Sabang, Jantho). Kota ini juga mengembangkan sektor ekonomi kreatif, termasuk identitas baru โKota Parfum Indonesiaโ, dengan ekspor minyak nilam senilai Rp1,5 miliar.
Baca juga: Info Haji! Kemenag Aceh Buka Pendaftaran Haji Plus Kuota Khusus, Kuota Terbatas!
Kolaborasi Internasional dan Peluang Investasi
Hubungan Banda Aceh dengan Tiongkok telah terjalin sejak Dinasti Ming. Artefak keramik Dinasti Ming masih ditemukan di Gampong Pande dan Lamreh, menunjukkan diplomasi damai antara kedua daerah.
Kini, kolaborasi berfokus pada promosi wisata lintas negara, investasi pariwisata halal, pengembangan waterfront city, pelatihan SDM pariwisata, serta integrasi data destinasi berbasis AI. Selain itu, rute penerbangan Banda Aceh-Kuala Lumpur-Wenzhou/Guangzhou dan promosi digital melalui TikTok, Douyin, Trip.com, Fliggy, dan WeChat turut mendukung kerja sama ini.
Pesan Perdamaian dan Kolaborasi
Menutup presentasinya, Illiza menekankan semangat Banda Aceh untuk menjaga warisan, membangun kolaborasi, dan menebar kedamaian. “Melalui Jalur Sutra Maritim, kami ingin mengirim pesan sederhana, dari sejarah belajar kebersamaan, dari budaya belajar kemanusiaan, dan dari kolaborasi menumbuhkan masa depan yang damai dan berkeadilan,” ujarnya.